Merintis Adanya Kampung Kincir Bambu

Mikrohidro - Salah satu pemanfaatan potensi air di Jowah

Biogas: Pemanfaatan Limbah Peternakan

Salah satu upaya optimasi potensi peternakan yang terdapat di Dusun Jowah yaitu instalasi biogas skala rumah tangga.

Sistem Pengelolaan Sampah

Menginisiasi pola hidup sehat dengan pengelolaan sampah mandiri

Potensi Pertanian dan Peternakan

Luasnya area pertanian dan banyaknya jenis hewan ternak yang dikelola warga menjadi sumber yang potensial untuk terus dikembangkan

UKM Genteng dan Batu Bata

Desa Jowah dengan UKM Genteng dan Batu Bata dari tanah liat yang giat berproduksi dari pagi sampai sore

Tim KKN-PPM UGM 2012 Unit 42

Tim KKN-PPM UGM generasi kedua penerapan IPTEK di Dusun Jowah

Tampilkan postingan dengan label ukm. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ukm. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Agustus 2012

Usaha Kecil Menengah Tahu


Dusun Jowah adalah sebuah dusun yang memiliki beragam Usaha Kecil Menengah (UKM). Sebagian besar warga dusun Jowah bermata pencaharian sebagai wiraswasta dengan membangun usaha kecil. Salah satu usaha kecil menengah yang ada di dusun Jowah adalah tahu. Usaha tahu sudah berdiri sejak tahun 1970-an. Saat itu usaha tahu di Jowah hanya ada dua. Tahu tersebut bukanlah tahu basah melainkan tahu magel, yakni tahu yang biasa dibuat untuk tahu bakso. Tahu tersebut dikelola secara perorangan oleh Ibu Ngatinem dan Ibu Sukarni. UKM tahu tidak memiliki perkumpulan sendiri seperti UKM lain yang ada di dusun Jowah sebab hanya terdiri dari sedikit anggota. Oleh karena itu UKM tahu masih dikelola secara perorangan belum seperti home industry. Di tahun 2012 ini, ada tiga keluarga yang mengelola UKM tahu. Dua di antaranya adalah tahu magel, kemudian tahu basah baru dikelola oleh Pak Asmadi di tahun 2008.

Perbedaan tahu magel dan tahu basah adalah dari endapan yang digunakan. Pada tahu magel endapan yang digunakan adalah cuka. Cuka yang telah digunakan kemudian ditampung dan akan digunakan kembali sebagai endapan keesokan harinya. Sedangkan tahu basah menggunakan endapan gamping yang setiap harinya diganti. Kemudian sisa ampas tahu dimanfaatkan untuk membuat tempe gembus. Hasil tahu seluruhnya dijual di pasar Godean dan di warung-warung.

Proses Pembuatan Tahu
Kedelai direndam selama 5-6 jam. Kedelai kemudian digiling dan direbus sampai mendidih. Selanjutnya disaring menggunakan kain nori. Setelah disaring kedelai diendapkan dengan gamping. Dalam proses endapan, air dibuang kemudian tahu di cetak dengan cara di pres menggunakan kotak yang atasnya ditekan. Tahu selanjutnya dipotong-potong dan dapat digoreng atau diwarnai menggunakan kunir. Secara keseluruhan proses pembuatan tahu membutuhkan waktu 8-9 jam.

Alat penggiling kedelai

Tempat merebus hasil gilingan kedelai

Tempat penyaringan

Tempat pencetak tahu

Proses pemotongan tahu

Pewarnaan tahu

Tahu yang telah diwarnai

Genteng, UKM Utama Jowah VI

Tempat pembakaran genteng

Genteng merupakan bahan yang digunakan untuk membangun atap rumah. Secara umum, genteng terbuat dari tanah liat. Di sudut Kabupaten Sleman, tepatnya di Kecamatan Godean Sidoluhur terdapat satu dusun yang bisa dibilang memiliki cukup banyak UKM Genteng yaitu Dusun Jowah. Di setiap sudut dusun Jowah dapat ditemui rumah-rumah warga yang memiliki usaha genteng. Ini dilihat dari genteng yang dijemur berjejer di pelataran rumah warga, dan adanya rumah pembakaran yang tinggi menjulang menunjukkan bahwa usaha genteng menjadi salah satu ciri khas serta potensi khusus dari dusun Jowah VI. Setiap harinya dapat ditemui warga yang membolak balik genteng yang dijemur, membakar genteng sampai larut malam dan menyusun genteng yang akan dipasarkan.

Para warga yang memiliki UKM genteng ini enggan disebut sebagai pemilik industri genteng, mereka lebih nyaman disebut sebagai pengrajin genteng. Dikarenakan para pengrajin genteng ini belum pada skala produksi yang sangat besar dan masih berkisar di Yogyakarta saja.

Proses pembuatan genteng bisa dibilang cukup panjang. Bahan baku utama pembuatan genteng adalah tanah liat atau biasa disebut lempung. Para pengrajin di Jowah ada yang mengambil lempung tersebut dari daerah tertentu misalkan dari Kulon Progo, untuk selanjutnya diolah sendiri. Berikutnya lempung ini diaduk, dicampur, dan digiling menggunakan mesin tertentu yang biasa disebut mesin molen. Setelah lempung diolah, kemudian di-press dan dicetak dengan alat pencetak genteng.

Genteng ini selanjutnya dijemur selama kurang lebih dua hari. Namun, ini juga tergantung dengan cuaca yang ada. Harus cuaca yang cukup panas atau terik. Cuaca yang sering berubah menjadi kendala tersendiri bagi pengrajin, karena mereka menjadi menunggu lebih lama untuk genteng berubah menjadi keras.

Proses pembuatan genteng tidak berhenti sampai tahap penjemuran. Genteng masih harus dibakar dalam waktu yang lama, biasanya dimulai dari pagi hingga larut malam. Setidaknya memakan waktu sekitar 14 jam untuk mendapatkan hasil genteng yang bagus.

Alat pencetak genteng
Genteng yang baru selesai dicetak
Penjemuran genteng